Wardiono: Konsisten Mengawal Tradisi Tengger

Posted on 20. Jun, 2008 by PUSPeK Averroes in BINCANG BUDAYA

Untuk ukuran pamong desa, Pak Wardiono tergolong luar biasa. Bagaimana tidak, ia dipercaya oleh masyarakat menjadi ketua rukun tetangga (RT) selama 25 tahun semenjak tahun 1979 hingga 2004. Padahal, ketua RT lain tidak pernah mengemban jabatan selama itu. Bahkan pada tahun 2000, di samping sebagai ketua RT, kepercayaan warga pun berlanjut dengan dipilihnya Pak Wardiono menjadi kamituwa (kepala dusun). (more…)

Membaca Pariwisata Seni-Budaya: Tari Gandrung Banyuwangi

Posted on 09. May, 2008 by PUSPeK Averroes in BINCANG BUDAYA

Oleh: Bisri Effendy
Dua Catatan Lapangan
Pertama
Sejak sekitar tujuh tahun terakhir, Dinas Pariwisata dan seniman-budayawan Dewan Kesenian Blambangan (DKB) yang didukung Pemkab Banyuwangi terlihat intensif mengelola gandrung, sebuah seni pertunjukan berbasis tari-nyanyi mirip tayub, gambyong, lengger, teledhek, atau cokek di daerah lain, untuk menyemarakkan pariwisata di daerah itu. Bahkan, melalui SK Bupati, sejak Desember 2003 gandrung resmi menjadi mascot pariwisata Banyuwangi yang disusul pematungan gandrung yang dipajang di berbagai sudut kota dan desa. Pemkab Banyuwangi juga memprakarsai promosi gandrung untuk dipentaskan di beberapa tempat: Surabaya, Jakarta, Hongkong, dan beberapa kota di Amerika Serikat. (more…)

Pak Poyo: Jaranan Seharusnya Tidak Keluar dari Pakem

Posted on 06. May, 2008 by PUSPeK Averroes in BINCANG BUDAYA

Oleh Edi Purwanto
Mentari sudah berada diatas kepala, jam tanganku sudah menunjukan pukul 11.00. suara motor terdengar menderu-deru seolah memekakan telingaku. Pedagang kaki lima berjajar memenjang dari utara ke selatan pasar Bandar. Para pedagang asik menawarkan daganganya kepada setiap pembeli yang menghampirinya. Tampak olehku orang tua berumur 70 tahunan sedang berada diatas becak. Tampak dari kejauhan dia sangat lelah sekali. Kelihatanya dia habis mengangkut penumpang. Keringatnya mengalir deras membasahi tubuh dan mukanya. Kulitnya yang hitam bercampur dengan debu jalanan membuat wajahnya mengkilat tersapu oleh sengatan panas mentari. Topi caping yang dia gunakan sebagai pelindung wajahnya dari sengatan matahari tampak kusam. Ketika saya menghampirinya dia tersenyum lebar dan menyambutku dengan bangga. Dialah pak Poyo seniman jaranan yang kegiatan sehari-harinya mengayuh becak dan mengangkut sampah kalu malam harinya. Dia memiliki 5 orang anak dan 6 orang cucu. Dia adalah seniman jaranan. Dengan senyum lebar dia mulai bercerita tentang pergulatan hidupnya sebagai seniman jaran kepang di Kediri. (more…)

Sakiya Sunaryo: Saya Tidak Terima Ludruk di Surabaya Hilang

Posted on 06. May, 2008 by PUSPeK Averroes in BINCANG BUDAYA

Oleh Edi Purwanto

Siang itu Kota Surabaya terasa panas sekali. Panasanya terik matahari seolah-olah membuat kulit setiap orang yang ada dibawahnya terbakar. Asap kendaraan dan pabrik serta bau sampah menyengat. Dari jauh terdengar suara motor yang tidak pernah berhenti berbunyi. Sesekali suara pesawat terbang menambah kebisingan dan hiruk-pikuk kota Surabaya. Tidak jauh dari keramaian Kota Surabaya ada sebuah gedung Ludruk. Gedung ini bernama Gedung Ludruk Irama Budaya. Tepatnya berada di Wonokromo, di Pinggir Sungai Brantas. Gedung itu sangat sederhana arsitekturnya masih model lama. Gedung itu hanya memuat penonton sekitar 120 orang. Peralatan yang digunakan juga masih sederhana. Pada saat pertunjukan, gedung ini hanya menggunakan seperangkat gamelan dan beberapa alat pengeras suara. Di gedung inilah Ludruk Irama Budaya setiap malam melakukan pementasan dengan lakon yang berbeda-beda. (more…)