Memilih Ontel, Melawan Keren

Posted on 04. Mar, 2009 by PUSPeK Averroes in RAGAM

Nanang Wahid Zatmiko*)

Bersepeda bukan sekedar mengendarainya, terlebih bagi mereka yang memilih ontel sebagai tunggangan sehari-hari. Ontel benar-benar terlipat dalam catatan sejarah. Tidak banyak orang tahu asal muasalnya, namun sejak dulu Soekarno telah mengendarainya untuk keliling Jakarta. Pada masanya yakni tahun 60-an kebawah, ontel menjadi alat transportasi cukup mahal. Tidak semua orang bisa memilikinya, cukuplah di daerah perkotaan ontel lalu lalang dengan nomor seri harus terus diperbaharui setahun sekali. Namun kini, sungguh terasa unik masih ada anak muda yang tekun merawat dan mengendarai ontel tua kemanapun ia melalang-lang buana.

Beberapa alasan orang pemilik sepeda ontel cukup beragam tentang sebab mengapa mereka lebih memilih ontel. Secara garis besar, utamanya penuturan beberapa anggota Malang Ontel Club (MOC), alasan mereka adalah hobi, pencitraan identitas, melawan trend dan ingin tampil beda. “Orang bilang untuk menggaet cewek harus bersepeda dan berpenampilan keren. Tetapi saya berangan-angan membalik itu semua dengan ontel”, begitu tutur latif salah satu aktifis MOC,(17/09/08) di sela-sela rehat. Inilah salah satu potret perlawanan atas trend keren masa kini yang distandardisasi.

Keren disini lebih diidentikkan dengan ke-up to date-an pada fashion, selera musik, jenis HP dan gaya bicara agak English. Media seperti Global TV, MTV, dan beritas selebritis ikut menjadi menu utama konsumen-konsumen muda yang tentunya memuluskan pola hagemonik ini. Tak pelak tuntutan untuk menjadi diri yang slalu up to date butuh uang banyak. Tidak punya uang bekerja, setelah dapat uang belanja. Terus menerus begitu. Dalam kondisi inilah identitas diri menjadi benar-benar terkikis. Standardisasi keren mengikis habis nilai-nilai moral, digantikan kesadaran semu yang ingin terus terpuaskan dan melanggar apa saja. Identitas diri tidak lagi menjadi dirinya karena harus terus bersanding dengan citra yang diproduksi alias kesadaran diluar diri.

Komoditas yang dahulu masuk katagori skunder bahkan tersier berubah menjadi benar-benar primer. Semisal handphone  yang dahulu difungsikan hanya untuk telefone jarak jauh tanpa kabel, kini harus bisa menampilkan gambar dan harus on-line dengan internet kapan saja. Dunia benar-benar bisa dilipat hanya dengan perangkat kecil HP. Argumentasi ini bukan berarti anti-teknologi, lebih dari itu bagaimana seharusnya manusia memposisikan teknologi bukan malah teknologi mengkondisikan manusia.

Gejala-gejala sebagaimana tersebut di atas tentu saja sebagai indikator keberhasilan kapitalisme global yang sukes membawa masyarakat menjadi massa, yaitu masyarakat dilebur dari batas-batas tradisionalnya menjadi massif konsumsi.(Dominic Srinati: 2003) Maka dalam kondisi demikian dalam kacamata ekonomi, kapital berputar terus menerus membentuk posisi timpang yang menguntungkan lingkaran kapitalis dan merugikan konsumen. Anehnya konsumen benar-benar dibuat seolah tidak menyadari hal itu. Dalam kacamata kebudayaan, budaya massa yang diproduksi hanya akan mengikis budaya setempat dan hanya akan mengokohkan budaya dominant yang banyak diisi Negara-negara berkapital besar.  Nilai moralitas, agama dan keagamaan tidak lagi sekokoh dahulu. Bahkan dalam perkara uang semua orang mempunyai ‘agama’ yang sama.” (Voltaire, 1694-1778).

Adorno membenarkan kondisi sebagaimana tersebut di atas, menurutnya budaya massa mengasumsikan bahwa massa memiliki tanggung jawab murni yang sama atas budaya yang mereka konsumsi, sehingga hal itu ditentukan oleh kecendrungan-kecendrungan massa itu sendiri. (Dominic Srinati : 2003). Massa benar-benar tidak menyadarinya, karena semua dibuat sebagai bukan beban.

Kaum muda keren yang distandardisasi budaya tentu harus kembali berpikir ulang tentang siapa dirinya dan siapa diluar dirinya. Sebab tidak menutup kemungkinan, apa-apa yang selama ini menjelma menjadi identitas diri sesungguhnya bukanlah dirinya.

Penulis benar-benar kagum dan mengamini apa yang telah dipilih oleh sedikit kaum muda yang masih mau merawat dan mengendarai ontel suka-suka. Ia bebas hambatan pergi kemana-mana tanpa harus antri BBM dan tanpa harus terjebak macet. Kegigihan dan kesabarannya menggunakan ontel tentu adalah bentuk perlawanan praktis terhadap hagemoni kebudayaan. Banyak hal yang bisa dipelajari dari menjatuhkan pilihan pada sebuah sepeda ontel butut. Budaya pop benar-benar mengkondisikan ketimpangan, so kenapa tidak dimulai dari diri sendiri untuk melawannya.

Naskah ini diajukan sebagai persyaratan mengikuti Sekolah Kebudayaan yang diadakan oleh PUspek Averoes pada tanggal 20-23 september 2008.

Artikel Terkait

  • Artikel Lainnya

One Response to “Memilih Ontel, Melawan Keren”

  1. Ninja 19 November 2009 at 11:28 pm #

    Jangan terlalu menyalahkan kapitalisme, karena kapitalisme juga produk timbal balik antar manusia secara keseluruhan. Arus utama manusia selalu berubah sesuai dengan arus sejarah, mulai dari masa klasik, pertengahan, modern, post modern dan mungkin…hypermodern. Dan memang ada di antara sekian manusia yang mengikuti trend..orang0orang yang berbeda..


Leave a Reply